Menulis ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan.
Bukan karena tidak bisa merangkai kata, tetapi karena setiap tulisan menuntut kejujuran—dan jujur pada diri sendiri sering kali adalah hal paling sulit.
Sawacana saya mulai tanpa rencana besar. Saya hanya tahu satu hal: saya ingin menulis. Dari situlah lahir tiga bentuk tulisan awal,catatan, Peristiwa, dan Sudut Pandang—masing-masing dengan kesulitannya sendiri.
Kesulitan Menulis Catatan
Catatan seharusnya menjadi ruang paling bebas, namun justru di sanalah saya paling sering ragu.
Ragu apakah yang saya tulis terlalu sederhana, terlalu pribadi, atau bahkan tidak penting sama sekali.
Sering kali saya berhenti di tengah paragraf, menghapus kalimat, lalu menatap layar tanpa tahu harus melanjutkan ke mana.
Menulis catatan memaksa saya berhadapan langsung dengan pikiran sendiri—dan tidak semua pikiran mudah diterima.
Kesulitan Menulis Peristiwa
Menulis tentang peristiwa terasa jauh lebih berat.
Saya takut keliru, takut tidak cukup memahami konteks, dan takut dianggap berbicara terlalu jauh.
Ada tekanan untuk berhati-hati, memilih kata yang tidak melukai, namun tetap jujur pada rasa kemanusiaan.
Sering kali saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya berhak menulis tentang ini?
Di titik itu, saya sadar bahwa menulis peristiwa bukan soal merasa paling tahu, tetapi soal tidak menutup mata dan tidak sepenuhnya diam.
Kesulitan Menulis Sudut Pandang
Sudut pandang adalah bagian yang paling menegangkan.
Di sini saya harus berdiri pada satu sikap, meskipun sikap itu belum tentu disukai atau dipahami orang lain.
Saya khawatir terlihat sok tahu, terlalu emosional, atau terlalu lemah.
Namun saya juga sadar, tanpa sudut pandang, tulisan hanya menjadi rangkaian kata tanpa arah.
Menulis sudut pandang mengajarkan saya bahwa keberanian tidak selalu datang dalam bentuk keyakinan penuh—kadang ia hadir dalam bentuk keraguan yang tetap dituliskan.
Sebuah Awal yang Tidak Mudah
Ketiga jenis tulisan ini lahir dari proses yang tidak selalu nyaman.
Ada lelah, ada ragu, ada keinginan untuk berhenti, bahkan sebelum benar-benar mulai.
Namun postingan ini bukan keluhan.
Ini adalah catatan awal—bahwa perjalanan menulis di Sawacana dibangun dari proses yang jujur, lambat, dan apa adanya.
Saya tidak tahu sejauh mana perjalanan ini akan membawa saya.
Untuk saat ini, saya memilih satu hal yang paling masuk akal: terus menulis, meski dengan segala keterbatasan.

Sawacana ditulis dan dibangun secara perlahan. Jika tulisan ini memberi arti, menemani pikiran, atau sekadar singgah di hari Anda, dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar perjalanan ini dapat terus berlanjut.
Lihat Ide Saya di ExporID
Saya juga menuangkan ide pemikiran saya di exporid.com — sebuah cita-cita untuk menghidupkan kembali tanaman organik demi keberlangsungan hidup, dimulai dari langkah kecil yang realistis dan bertahap.
Catatan: Saya menulis ini sebagai perjalanan, bukan klaim kesempurnaan. Saya terbuka pada masukan dan dukungan yang baik.

